#Kalam Al-Hikmah : 104 | Ujian untuk Belajar, Bukan Belajar untuk Ujian
Dalam dunia pendidikan, sering kali kita melihat para pelajar dan mahasiswa terjebak dalam rutinitas belajar yang hanya berfokus pada ujian. Fenomena ini dikenal sebagai "belajar untuk ujian." Banyak di antara mereka yang memanfaatkan "Sistem Kebut Semalam" (SKS) untuk menghafal materi pelajaran dalam waktu singkat, berharap bisa memperoleh nilai yang baik keesokan harinya. Sayangnya, pola belajar semacam ini sering kali berakhir dengan hilangnya ilmu yang baru saja dipelajari begitu ujian usai.
*Belajar sebagai Proses Menuntut Ilmu*
Islam sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu. Ilmu dalam Islam bukan hanya sarana untuk memperoleh nilai atau sertifikat, melainkan jalan menuju kedekatan dengan Allah, kemuliaan, dan perubahan yang lebih baik, baik bagi individu maupun umat. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Darda’ radhiyallahu 'anhu:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ، وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Artinya: _“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Dan para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu. Dan seorang alim akan dimintakan ampunan baginya oleh siapa pun yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikan yang ada di lautan pun akan memintakan ampun baginya. Kelebihan seorang alim di atas ahli ibadah bagaikan kelebihan bulan di atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.”_
*(HR. Abu Dawud no. 3641, Tirmidzi no. 2682)*
Hadis ini menegaskan bahwa ilmu adalah warisan para nabi, sesuatu yang sangat berharga dan tidak bisa digantikan dengan materi duniawi seperti dinar dan dirham. Ilmu tidak hanya berguna untuk meraih prestasi akademik, tetapi lebih jauh dari itu, ilmu adalah bekal untuk kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, tujuan menuntut ilmu haruslah lebih luas dari sekadar lulus ujian.
Hindari Belajar Sistem Kebut Semalam (SKS)
Salah satu kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh para pelajar adalah belajar dengan Sistem Kebut Semalam (SKS), yakni memforsir diri untuk mempelajari semua materi hanya dalam satu malam sebelum ujian. SKS mungkin efektif untuk mendapatkan nilai yang tinggi pada ujian, tetapi metode ini jauh dari tujuan sebenarnya dari belajar. Ketika seseorang hanya berfokus pada hafalan dalam waktu singkat tanpa pemahaman yang mendalam, ilmu yang didapat cenderung cepat hilang begitu ujian selesai.
Ulama dan para pendidik selalu menganjurkan agar ilmu dipelajari secara bertahap dan terus-menerus, bukan dengan cara terburu-buru. Menuntut ilmu adalah proses panjang yang memerlukan kesabaran dan konsistensi. Dalam sebuah ungkapan terkenal disebutkan:
العِلْمُ بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ
"Ilmu itu laksana lautan yang tak bertepi."
Ilmu harus diraih dengan penuh ketekunan dan perhatian. SKS mungkin memberikan hasil cepat, tapi apa gunanya jika ilmu itu segera terlupakan? Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan hanya angka yang tinggi di rapor atau ijazah, melainkan ilmu yang bermanfaat, yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
*Mengubah Paradigma: Ujian untuk Belajar*
Daripada berfokus pada "belajar untuk ujian," kita harus mengubah paradigma menjadi "ujian untuk belajar." Ujian hanyalah salah satu cara untuk mengukur sejauh mana pemahaman kita terhadap ilmu yang telah dipelajari, bukan tujuan akhir dari belajar. Melalui ujian, kita seharusnya bisa menilai di mana kekurangan kita dan bagaimana memperbaiki diri. Nilai ujian yang baik memang penting, tetapi lebih penting lagi adalah pemahaman yang mendalam dan kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan.
Dengan demikian, menuntut ilmu bukanlah tentang mencapai hasil dalam waktu singkat, melainkan proses pembelajaran yang terus berlangsung sepanjang hayat. Sebagaimana kata pepatah, _"Belajar itu seperti mendayung ke hulu, jika tidak maju, maka akan hanyut."_
*Kesimpulan*
Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim, dan ilmu adalah jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat. Kita harus menghindari belajar hanya untuk mendapatkan nilai ujian yang tinggi, tetapi harus fokus pada pemahaman yang mendalam dan aplikasi dari ilmu yang dipelajari. Mari kita ubah cara pandang kita terhadap belajar, bahwa ujian adalah kesempatan untuk menilai dan memperbaiki diri, bukan semata-mata untuk mengejar nilai angka.

Komentar
Posting Komentar